-->

Sabtu, 28 Januari 2012

Piala FA : Kuyt Bawa Liverpool Pecundangi United

Dirk Kuyt mencetak gol kemenangan saat Liverpool mengalahkan MU dalam lanjutan Piala FA (28/12). Meski kerap dicadangkan, Kuyt selalu mencetak gol-gol penting bagi Liverpool.(Masjawa/REUTERS)
Babak keempat Piala FA yang digelar pada Sabtu, (28/12) musim 2011-2012 menyuguhkan laga bigmatch klasik britania raya. Tuan rumah Liverpool FC menjamu seteru abadinya dari Lancashire, Manchester United. Untuk kesekian kalinya kedua klub bertemu sepanjang musim kompetisi 2011-2012. Laga yang memperebutkan satu tiket menuju putaran kelima piala FA itu berlangsung seru dan dramatis. Sebelum laga dimulai, perseteruan di luar lapangan pun turut mewarnai duel kedua klub klasik tersebut. Striker andalan The Reds –julukan Liverpool-, Luis Suarez, harus absen selama 8 pertandingan setelah FA menjatuhkan hukuman skorsing karena dianggap melakukan tindakan rasis terhadap bek kiri MU asal perancis, Patrice Evra. Minus Suarez, praktis lini depan Liverpool hanya bertumpu pada ketajaman Andy Carroll dan Craig Bellamy. Nama terakhir adalah sosok striker yang tengah onfire setelah golnya mengandaskan perlawanan klub sekota United, Manchester City, beberapa hari lalu sekaligus mengantarkan Liverpool ke final piala Carling untuk kesekian kalinya.

United juga bukannya memulai pertandingan tanpa masalah. Badai cedera yang menghantam sejumlah pemain pilar membuat permainan mereka terlihat pincang. Seperti yang dilansir Goal.com, pemain andalan United macam Rooney, Ferdinand, Vidic, Nani, Phil Jones, Anderson, Owen, Young, Fletcher dan Cleverley harus absen karena masih menjalani perawatan. Absennya sejumlah pemain andalan memaksa manajer kedua klub memutar otak dan meracik strategi yang tepat dengan menggunakan sejumlah pemain yang ada.

Laga dimulai dengan aksi Maxi Rodriguez di menit empat yang mengancam gawang United, namun masih bisa diselamatkan kiper David De Gea. Kubu MU balik menyerang lewat tendangan keras Antonio Valencia di menit 18 meski masih menyentuh mistar gawang Pepe Reina. Tribun The Kop baru bergemuruh ketika Daniel Agger sukses menyarangkan gol lewat sundulan ke gawang United di menit 21, setelah menerima umpan sepak pojok. 1-0 untuk Liverpool.

Ketinggalan satu gol membuat United kian meningkatkan tempo permainan. Adalah Park Ji Sung yang membuat gol penyama kedudukan di menit 39 usai menerima umpan datar dari Rafael di sisi kanan yang diselesaikan dengan firstime keras ke sudut kanan gawang Pepe Reina. Skor imbang 1-1 menutup babak pertama hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Kenny Dalglish melakukan sejumlah pergantian pemain. Bellamy dan Kuyt masuk menggantikan Maxi dan Gerrard. Masuknya kedua pemain ini membuat serangan The Anfield Gang tampak lebih hidup. Serangan melalui bola-bola direct diperagakan anak asuh Dalglish hingga membuat pertahanan United tertekan. Melihat anak buahnya terdesak, Sir Alex Ferguson menambah daya gedor dengan menurunkan striker Javier ‘Chicharito’ Hernandez. Masuknya Charlie Adam membuat lini tengah Liverpool tampil semakin percaya diri. Bek muda Martin Kelly tampil sangat disiplin dan lugas dalam menjaga pertahanan dengan mematikan pergerakan Ryan Giggs sehingga membuat alur serangan United terganggu. Kerjasama apiknya dengan Kuyt di sisi kanan pun membuat serangan Liverpool makin trengginas. Hasilnya, di menit 88 Dirk Kuyt berhasil mencetak gol kemenangan sekaligus merubah skor menjadi 2-1 setelah menerima umpan sundulan dari Carroll dan kemudian memperdayai De Gea. Gol dramatis ini sontak disambut penuh sukacita oleh pendukung Liverpool yang memadati stadion Anfield. Liverpool nyaris saja mencetak gol tambahan andai sundulan Carroll di sisi kanan gawang tidak terhalang mistar dan sepakan Kuyt lebih terarah. Seisi stadion yang berkapasitas 45.000 orang itu pun akhirnya bersorak setelah wasit M. Halsey meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Kemenangan yang meloloskan Liverpool ke babak V Piala FA ini seakan menjadi balasan terhadap United yang menyingkirkan mereka di ajang yang sama musim lalu.

Sabtu, 24 Desember 2011

Bersama Bapak dan Ibu di Pagi Hari

Rumah selalu punya arti dalam hidup gue. Semua yang ada di rumah adalah guru, tempat gue belajar, tempat belajar caranya hidup di dunia. Seperti pagi ini, ditemani kue serabi hangat dan segelas teh manis menemani percakapan antara gue dan bapak. Ibu yang biasanya sibuk mondar-mandir di dapur setiap pagi pun sekarang duduk di samping gue sambil sesekali menuangkan teh dari teko. Seperti biasa, seorang anak yang baru pulang dari rantau akan selalu banyak bertanya, dan begitu juga Bapak yang selalu ingin banyak berbincang dengan putranya. Tidak seperti Ibu yang selalu terus terang jika sedang kangen, bapak hanya diam dan bicara seperlunya. Sebagaimana sikap laki-laki pada umumnya. Topik yang dibahas pun seputar dunia kampus, aktivitas kuliah, agama, kondisi keuangan, organisasi, kontrakan hingga makanan. Topik favoritnya tentu saja politik, khususnya tentang kondisi Indramayu. Bapak yang selalu bersemangat jika mendengarkan cerita gue, seperti saat ini. Kaos singlet putih yang melekat ditambah kain sarungnya yang dibetulkan sesekali, sangat khas bapak. Tidak lupa secangkir teh manis favoritnya yang selalu setia menemani. Tatapan matanya yang antusias, seakan ikut mendengarkan cerita gue juga. 

Jauh-jauh gue pulang dari Bogor ke Indramayu, bukan cuma karena duit gue yang mulai abis. Lebih dari itu, gue kangen ketemu Bapak dan Ibu. Kangen sambel terasi dan sayur asem bikinan ibu, kangen banyolan segar khas bapak. Seperti saat ini. Kami duduk bersama dan bercengkerama. Diselingi gelak tawa renyah memenuhi seisi ruang tamu.

Tidak ada yang bisa menggantikan kalian, pak, bu.
Untuk pagi ini, hari ini, dan sampai nanti.

Sabtu, 17 Desember 2011

Gagal Tapi Sukses


Akhirnya gue ketemu lagi sama buletin ini. Hasil dari ngoprek blognya tetangga sebelah ^^. Udah lama banget nih buletin ngilang, terakhir disimpen ama HRD selesai upgrading (entah kemana nasibnya sekarang). Jadi kangen dulu lagi.


Oh iya, gue belum ngenalin yah. Ini adalah buletin karya gue bareng temen-temen magang korpus dulu, namanya IKLANBARIS.

Kenapa namanya IKLANBARIS?

Jadi ceritanya itu, gue bareng temen-temen 47 lainnya lagi ikutan acara upgradingnya Koran Kampus. Kita waktu itu dikumpulin panitia jam 6 teng di lapangan rektorat. Pake dresscode baju olahraga kalo gak salah mah. Pemanasan dulu sebelum mulai. Terus dilanjut ama perkenalan dan games kecil-kecilan. Upgradingnya diikuti sekitar 20-an anak 47 dan beberapa angkatan 46 dan 45. Habis maen games, kita dibagi jadi beberapa kelompok. Tiap kelompok dinamai dengan hal-hal yang berhubungan dengan koran. Kebetulan gue gabung sama kelompoknya kak Bams, Ligar, Mawar, Anya sama Wenny. Secara gue orangnya pemalu, jadi yang gue kenal pas itu cuma si Anya doang. Itupun karena udah kenal duluan sebelum masuk korpus. Asal mulanya pada kebingungan pada mau ngambil nama apa buat kelompok. Ada yang ngusulin pena berdarah, pensil terbang, dan macem-macem. Dan akhirnya gue yang ngusulin nama Iklan Baris. Alasannya, karena lucu aja dan gampang buat dibikin jargon. Jadilah sepakat dipakai Iklan Baris sebagai nama kelompok kita.

Dilanjutin kemudian dengan perang jargon dan yel-yel. Kocak bener pas bagian ini. Kelompok lain pada serius bikin yel-yel. Kita malah gabut-gabutan gara-gara kelompoknya pendiem semua. Tapi untunglah akhirnya kita dapet yel-yel sama jargon juga. Emang karena awalnya juga iseng, yaa hasilnya juga iseng banget. Jargon pilihan kita akhirnya jatuh pada : 

IKLANBARIS. Iklannya Baris. Iklannya Laris. 

Sangat iseng dan nggak ada artinya sama sekali.

Semua kelompok dipersilahkan mengenalkan anggota kelompoknya masing-masing, sambil memamerkan yel-yel dan jargon mereka. Ada penilaiannya juga loh ternyata. Pantesan aja tadi pada serius bikinnya. Meski begitu akhirnya kelompok gue juga yang menang. Yel-yel yang kita pake waktu itu mirip jingle iklan susu balita.

Biar kelompok kita orangnya diem-diem, tapi jangan salah. Buktinya, pas di games selanjutnya kita sapu bersih kemenangan dari kelompok lain. Cuma pas yang lomba susun lirik lagu yang kita kalah.

Menjelang tengah hari, peserta kumpul di samping shelter sepeda rektorat. Tiap kelompok diberi tugas bikin buletin dengan modal dari panitia 10 ribu perak. Beritanya yang ada di seputar kampus. Fatalnya, deadline itu yang gue lupain.

Bagi tugaslah kelompok gue. Ada yang ngeliput dan hunting foto dan gue kebagian ngelayout. Baru ngerasain betapa susahnya nyusun sebuah berita hingga jadi buletin. Namanya juga masih pemula. Bikin layoutnya aja lama padahal jadinya kayak gitu-gitu doang. Udah mah laptop yang gue pake waktu itu bermasalah lagi. Sampe akhirnya menjelang maghrib buletinnya udah rampung diprint.

Tapi sayangnya...... JENG JENG JEEEEEENG

Buletin kami kena diskualifikasi sama panitianya, karena nggak tepat deadline. Sedih. Udah lari-lari dari asrama-bateng-faperta ternyata kami tetep gagal. Tapi senang karena banyak yang muji buletinnya, apalagi sama senior-senior yang jam terbangnya udah banyak. Menurut mereka karya kamilah yang terbaik, udah memenuhi standar koran banget. Sekedar info, kami masih magang waktu itu dan belum dapet presscard.

Tapi, ya sudahlah. Belum nasib kali ya. Buat pelajaran juga.
Jadi, mulai sekarang.

Hargailah deadline ^^

Sekian.


Rabu, 14 Desember 2011

Kiblat : Antara Barat dan Barat Daya

Pada bulan Juli 2010, Majlis Ulama Indonesia (MUI) kembali membuat berita. Yaitu keputusannya tentang arah kiblat. Sebagian besar penduduk Indonesia yang mayoritas orang awam dikejutkan dengan fatwa arah kiblat. Bertahun-tahun umat meyakini bahwa arah kiblat adalah barat, tanpa ribet. Tiba-tiba ada pengumuman bahwa sebetulnya arah yang benar adalah barat daya. Bila anda shalat menghadap barat, bukan pada kiblat anda menghadap, tetapi anda menghadap Afrika.

Sebenarnya masalah ini bukan masalah baru, seratus tahun yang lalu Muhammadiyah sudah berjuang meluruskan arah kiblat yang benar. Sementara Nahdlatul Ulama’ bersikap lebih lunak, menghadap barat sudah cukup. Hal ini ditegaskan dalam Muktamar NU ke-9, tahun 1934.

Namun bukan berarti semua warga NU berpegangan dengan arah barat, karena menurut madzhab Syafi’i, arah kiblat harus benar-benar tepat. Madzhab Hanafi lah yang lebih lunak memperbolehkan arah barat. Dulu, Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, kiyai Mahfudz Anwar, mengundurkan diri dari jabatan ketua Ta’mir Masjid  “Baitul Mu’minin”  Jombang gara-gara saat masjid itu dibangun, pemerintah tidak mau menuruti arahan beliau tentang posisi arah kiblat. Beliau kemudian membangun masjid sendiri di Kebon Rojo, di sebelah Pesantren “Sunan Ampel”  miliknya.

Tapi bagaimanapun juga kepanikan ini melanda  umat. Para kiyai sibuk meladeni pertanyaan jamaah perihal masalah tersebut. Serasa kontroversi ini terangkat kembali dan menuntut energi yang banyak untuk menuntaskannya.

Kiyai Nashir Badrus, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Purwoasri, Kediri, punya cerita. Ketika sowan kepada Mbah Maemoen Zubair gurunya, seorang santri dari kampung bertanya kepada Mbah Maimoen apakah perlu megukur dan meluruskan arah kiblat bagi masjid dan mushalla-mushalla di kampungnya. 

“Tidak usah, apa kamu juga mau membongkar kuburan untuk meluruskan arah kiblatnya ahli kubur?” 

sumber : Mahrus Husain. Arah Kiblat. www.teronggosong.com

Sabtu, 10 Desember 2011

Legowo Itu Indah

Selesai kuliah, gue pergi ke perpustakaan LSI mencari bahan laporan. Kebetulan hari ini di perpus lagi ramai, banyak mahasiswa yang membaca dan meminjam buku. Setelah menemukan buku yang gue cari, gue mampir dulu ke shelter buat minjem sepeda, tapi nggak jadi karena sepedanya lagi dipinjam semua. Niatan buat pulang cepet pun diurungkan. Akhirnya, daripada nggak ada hasil sama sekali gue memutuskan untuk menunggu bis kampus.

Setelah beberapa menit menunggu, bis yang ditunggu pun datang juga. Mahasiswa berdesakan masuk. Pengap yang terasa setelah masuk bis, didukung dengan terik matahari di siang bolong membuat panas kian terasa. Untungnya gue dapet duduk, jadi agak mendingan. Gue pasang headset di telinga dan mulai muterin musik biar nggak bosen. Sesekali melihat sekeliling (sok iyee banget) kampusku yang permai. Bis kemudian berhenti di depan kampus FPIK. Beberapa anak keluar lewat pintu belakang, sebagian lagi lewat depan. Oh, sepertinya jalur pintu depan sedikit tersendat.

Ternyata hal itu disebabkan oleh seorang mahasiswa yang tidak bisa membuka pintu bis. Dari kursi belakang, si mahasiswa, yang kita sebut saja Rian (bukan nama sebenarnya), terlihat kesusahan membuka gagang pintu bis. Beberapa orang mahasiswi yang ngantri di belakangnya mulai gusar dan terlihat mulai kesal. Si Rian pun terlihat panik. Tapi, si sopir bis tiba-tiba menunjuk-nunjuk gagang pintu dan mengatakan sesuatu. Dia terlihat memarahi Rian dan memberi tahu cara membuka pintu bis yang benar. Kata-katanya tidak begitu jelas karena suara musik di headset gue. Anehnya, seorang mahasiswi malah cekikikan di tengah keadaan yang cukup menegangkan itu. Gue jadi terheran-heran, ada apa sebenarnya. Setelah si bapak berhasil membukakan pintu, para mahasiswa berhamburan keluar bis. Hanya, Si Rian terlihat agak masam dan cemberut mukanya pas turun dari bis. Mungkin gara-gara kejadian yang tadi kali ya. Bis pun berjalan kembali.

Sesampainya di kosan, gue ambil handuk dan pergi mandi untuk menyegarkan badan. Setelah membersihkan diri dan shalat ‘Ashar, iseng-iseng gue buka FB. Ngecekin notif terbaru dari beberapa grup. Lagi asyik-asyiknya baca status orang, tiba-tiba ada statusnya si Rian yang ketemu di bis tadi siang, lewat di News Feed. Karena penasaran, gue pun membacanya. Setelah selesai membaca, jidat gue jadi naik 30 cm saking kagetnya. Jadi bingung antara mau sedih atau ngakak tingkat internasional gara-gara baca status dia. Sepertinya curhatan tentang kejadian tadi siang. Begini kira-kira bunyi statusnya :

“ Kampus sekaliber IPB ternyata bisa kecolongan juga dalam pemilihan sopir bus kampus IPB. Salah seorang oknum sopirnya telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dengan menghina salah satu mahasiswanya dengan sebutan 'banci' ... “

Oalaaah, ternyata itu toh yang sebenarnya terjadi tadi siang. Pantesan aja si Rian mukanya langsung berubah jadi kayak kaleng sarden kesiram air raksa begitu keluar dari bis. Jadi, si bapak sopirnya marah-marah sama dia gara-gara nggak bisa bukain pintu, dan dengan indahnya beliau meluncurkan sebuah kata ‘banci’ kepadanya, yang sebenarnya agak saru untuk dikatakan, apalagi jika sasaran ucapannya adalah cowok yang memang agak-agak. Tapi sepertinya jika melihat bagaimana aslinya si Rian sih, yaa si bapaknya tidak salah juga. Hahaha.

Seakan kurang puas dengan status yang tadi, muncul pula status berikutnya :

“ Sumpah, seorang oknum sopir bus IPB menghina mahasiswa dengan sebutan banci hanya karena pintu bus yang memang sudah SGT susah dibuka. Hendaknya sopir2 bus kampus IPB adalah orang2 yang terpilih dan ber... “

Dilihat dari deretan statusnya, gue bisa ngerti bagaimana perasaan Rian. Siapa juga yang mau dibilang banci, apalagi itu diucapkan di depan mahasiswi. Oleh seorang sopir bis kampus lagi. Wajar kalau dia kesal dan merasa terinjak-injak harga dirinya. Karena ngerasa tergugah, gue ikutan komen juga di statusnya. Gue bilang mungkin si bapaknya lagi kecapekan aja karena kerja seharian, atau lagi bad mood aja. Namanya juga manusia, wajarlah jika ada kejadian seperti itu dan si bapaknya keceplosan –mungkin dengan sedikit emosi juga- sampai ngomong seperti itu. Kalau hanya kata ‘banci’, meskipun itu sulit untuk diterima, setidaknya mungkin masih wajar jika si sopir bis kampus itu sampai ‘terlanjur’ mengatakannya, apalagi dalam keadaan emosi. Merasa sakit hati itu wajar, namun bersikap legowo tentu lebih baik.

Kita tentu protes jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar, apalagi yang mengandung pelecehan seperti kata ‘banci’ tadi. Tapi, apakah kita tidak juga membandingkan dengan oknum mahasiswa yang terkadang tidak dijaga ucapannya? Malah terkadang sering mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas dikatakan untuk ukuran seorang pelajar berembel-embel ‘Maha’. Apakah pernah kita protes? Atau bahkan diri kita sendiri yang melakukannya? Pernahkah kita protes?

Tidak serta merta membiasakan diri untuk senantiasa legowo jika ditimpa kesusahan adalah salah satu karakter kebanyakan mahasiswa saat ini. Karena terbiasa selalu dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang serba ada sehingga terkadang lupa diri. Selalu protes jika ada yang salah dengan yang lain. Selalu merasa kurang dan tak pernah terpuaskan. Hanya karena beberapa kesalahan, kita langsung menghakimi mereka dengan berbagai tuduhan miring. Mereka juga kan manusia, sama seperti kita, pasti ada celahnya. Jika mereka ada salah, ingatkanlah. Manusiakanlah mereka sebagaimana kita memanusiakan diri kita.

Apa jadinya kampus kita tanpa jasa orang-orang seperti sopir bis kampus ini yang setiap hari setia melayani antar jemput mahasiswa, mengantar kesana-kemari, harus berurusan dengan tukang ojek yang biasa mangkal di wilayah kampus, harus mendengarkan celetukan mahasiswa jika sampai telat datang. Bagaimana nasib kita jika para sopir itu sakit, dan bis kampus tidak beroperasi? Siapa yang bakal repot? Tentu kita juga kan.

Setidaknya, bersikap legowo dengan apa yang ada di depan kita, baik ataupun buruk, seharusnya bisa diwujudkan dengan hati dan pikiran yang lapang, tanpa mendahulukan keegoan masing-masing. Dan sepertinya, Rian pun mulai memahami itu.

“ Seorang Sopir Bus IPB cukup membuat saya kaget, saya tersadar betapa akan kerasnya dunia pasca kampus nanti. Sedangkan di dunia kampus aja udah kayak gitu kejamnya. Dasar sopir yang ‘ramah??’ “

Nikmat atau kejamnya hidup sangat terbatas sekali pada apa yang ada dalam alam pikiran kita. Sudah sejauh mana kita mengasah indera kepekaan kita terhadap sesama, terhadap apa yang ada di sekeliling kita, bagaimana memahami mereka, dan apa yang mereka butuhkan dari kita, itulah yang seharusnya kita miliki dan terapkan dalam kehidupan yang serba beragam ini. Tidak melulu ingin selalu didahulukan dan dipuaskan keinginannya.

Oh iya, Rian sepertinya ingin mengklarifikasi statusnya yang lalu…

“ Sopir bis kampus IPB itu baik2 ya. Bisnya g macet pintunya. Kita disambut hangat. Aku suka naik bus IPB. Makasi pak supir bus IPB yang ‘RAMAH??????’ “



Yah, belajar untuk legowo itu memang sulit.



Minggu, 04 Desember 2011

Hantu Itu Bernama Curiga

Saat kita mencintai sesuatu, kita jadi takut sesuatu itu hancur. Hilang. Jika ada sesuatu yang datang dan mengganggunya. Kita jadi gusar. Gelisah. Memutar otak, berpikir keras, dan cemas. Menghabiskan waktu kita yang berharga hanya untuk mencemaskan bagaimana berbahayanya 'sesuatu' itu. Ancaman yang seolah-olah menakutkan. Mengurung kita, mengurung akal pikiran kita.


Lalu, kita harus berbuat apa?

Saat bingung seperti ini, saat ancaman datang dan seketika kita tidak siap, apa kita harus berteriak dan melolong di khalayak ramai bahwa ada anjing gila yang memasuki rumah kita dan minta tetangga untuk mengusirnya dengan sirine ambulans? Ataukah kita harus memanggil tim gegana untuk meredakan kebakaran yang mungkin terjadi di rumah kita?


Rasa takut dan cemas itu datang hanya karena kita tidak percaya. Kita tidak percaya bahwa yang kita sayangi akan baik-baik saja. Kita tidak percaya bahwa sesungguhnya dia sangat mempercayai kita dan bahwa semua akan baik-baik saja.


Jika bisa berkata seperti itu, dan ancaman yang datang sangatlah nyata?


Percaya. Hanya itu. Percaya bahwa semua akan baik saja, selama kita tidak memulai untuk merusak dan membuat kesalahan yang baru. Curiga dan memasang alarm dimana-mana hanyalah tindakan bodoh yang hanya akan membuat lawan kita terpingkal-pingkal dengan kebodohan kita. Kita bisa didikte olehnya, dan bisa diarahkan semau dia seperti halnya ternak.


Tetap tenang dan berpikir positif adalah solusi dari segala solusi. Siapapun yang tidak menyukai kita, membenci kita, menghasut kita diam-diam, meneror kita, mencemooh dan menghardik kita, semua adalah bagian dari hidup. Apakah semuanya seperti itu? tidak adakah yang mencintai dan menyukai kita? Sempitkah hidup ini hanya karena semua orang memicingkan matanya saat kita sapa?

Percayalah kawan, Percayalah. Percayalah padaku dan semuanya.

Semua akan baik-baik saja.

Kamis, 01 Desember 2011

Catatan Sepakbola : Keajaiban Istanbul

Stadion Attaturk. Istanbul. 2005.

Jutaan pasang mata tertuju pada sebuah laga hidup mati antara dua klub beda kasta di turnamen sepakbola paling bergengsi di ranah eropa: UEFA Champions League. AC Milan, klub elite Italia milik konglomerat media sekaligus mantan perdana menteri Italia, Silvio Berlusconi, bersua dengan ‘raksasa tidur’ dari tanah Britania Raya, Liverpool FC. Laga final yang tak biasa. Laga final yang penuh drama. Laga final sepakbola yang akan selalu dikenang seluruh dunia.

Perbedaan kasta itu tampak sejak wasit memulai pertandingan. Andriy Shevchenko mengejutkan The Anfield Gang dengan gol cepatnya di menit pertama. Disusul Hernan Crespo yang memborong dua golnya bersarang di gawang Jerzy Dudek. Skor 3-0 menutup babak pertama untuk kemenangan AC Milan. Selisih angka yang cukup menjelaskan betapa digdayanya raksasa italia itu atas lawannya. Gelar ketujuh pun hanya tinggal menunggu waktu untuk diboyong ke San Siro.

Namun, langit Istanbul tampak berkata lain.

Skor mencolok 3-0 tampaknya membuat Milan jumawa. Lupa bahwa bola itu bulat. Lupa bahwa sepakbola itu tentang 90 menit. Mereka tidak cukup menyadari bahwa malam itu dengan tak henti-hentinya Liverpudlians (fans fanatik Liverpool) mendengungkan koor yang membahana stadion dan membuat siapapun merinding mendengarnya : You’ll Never Walk Alone. Tak pernah putus arang, sepanjang laga mereka terus bernyanyi, dan terus bernyanyi mendukung tim. Senjata pamungkas maha dahsyat untuk membunuh Rossoneri.

Milan tampaknya tidak begitu peduli, siapa yang ada dibalik bench taktik sepakbola Liverpool FC saat itu. Rafael Benitez, pria spanyol kemarin sore yang baru berhasil membawa klub Valencia CF menjuarai Piala UEFA. Tak ada yang spesial dalam cacatan karirnya. Dia hanya tercatat pernah menukangi Real Madrid B. Tapi, sentuhan magisnya malam itu bahkan membuat seorang Carlo Ancelotti harus mengurungkan niatnya memeluk trofi Liga Champions untuk ketujuh kalinya.
 
Sebuah sentuhan magis yang membuat kiper Milan, Dida, memungut bola tiga kali dari gawangnya sendiri hanya dalam jangka waktu 6 menit. Hanya butuh waktu 360 detik untuk merontokkan mental juara AC Milan. Sempurna!

Namun, sosok sebenarnya dari drama Casablanca sepakbola ini adalah seorang pria inggris yang malam itu menyandang ban kapten Liverpool : Steven Gerrard.


Suami Alex Curran itu adalah seorang kapten tim yag luar biasa. Pejuang mimpi yang ulung. Butuh 'sentuhan' khusus untuknya agar rekan setimnya yakin dan bisa mengalahkan siapa saja, bahkan raksasa seperti AC Milan sekalipun. Tandukan kepalanya yang membuat bola meluncur bebas di sudut kanan Dida. Gol. Gol yang membakar semangat rekan-rekannya. Gol yang akhirnya membuka kran gol Vladmir Smicer dan Xabi Alonso. Mereka berjuang hingga akhir. Memasuki extra time. Sampai memasuki babak tos-tosan adu penalti yang akhirnya menjadi milik sang kiper merseyside, Jerzy Dudek..... (bersambung).