Sepucuk Puisi di Lantai Dua

Aku menghitung
Sudah 1460 malam
Aku tidur di lantai dua, sekret kita
Aku mengikat mimpi-mimpi
Merapal kata demi kata
Berapa banyak lagi
Sudah. Aku lelah membual
Kututup jendelamu, dingin.
Laba-laba berputar, memintal rumahnya
Di pintu yang kubolak balik setiap hari
Karpet kumal tua yang setia
Tak lelahkah engkau
Sudah sejauh ini kita
Lalu untuk apa lagi
Letih tidak kunjung ada
Aku patuh. Aku tidak bisa lagi
Semua hawamu adalah personaku
Aku tidak taat pula dengan deadline
Aku binal. Aku bengal padamu
Semua cerita tentang jurnalis itu omong kosong
Kau masih menghardikku
Sumpah serapahmu semakin culas
Aku tidak ragu lagi
Aku bukan jurnalis yang kau minta
Aku hanya pengelana di ketiak senjamu
Dan pelanggan setia telur goreng pak Imam.


Sebuah dini hari yang ramai. 5 Juni 2014. Besok bayar kontrakan.



Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Komentar

Postingan Populer