Buku Yang Dibaca Juga Seadanya

3 Juni 2014.

Pagi ini disambut suara seorang Ibu yang sedang mengajari putranya bahasa Indonesia. Sang Ibu membacakan soalnya, kemudian dijawab oleh putranya. Sesekali si anak mengeja sendiri soal yang dibuka, dan sang ibu mengejakan untuknya di soal-soal yang lain. Sungguh jenaka dan menyentuh kedengarannya.

Saya jadi berfikir, mengapa dulu cara belajar saya tidak seperti itu dengan ibu saya? Saya merasa kehidupan SD saya juga biasa-biasa saja. Sibuk main sama teman juga sih haha. Dulu, saya tidak pernah belajar dengan keras. Ayah dan Ibu tidak pernah mengajak saya belajar. Ayah bekerja, Ibu ngurusi rumah.

Beruntung, di rumah saya banyak sekali kertas bekas. Bekas cetakan yang tak dipakai dalam jumlah dan ukuran yang beragam. Walhasil jadilah kertas-kertas bekas itu jadi alat belajar saya. Bukan belajar pelajaran sekolah, tapi menggambar.

Menggambar sebenarnya bukan hobi saya, karena saya pun tak tahu hobi saya apa sampai sekarang. Jadi ya tadi, karena di rumah tak ada mainan, yang ada cuma kertas bekas dan buku, ya itulah mainan saya sehari-hari.

Karena di TV yang sedang in saat itu serial anime Samurai X, praktis gambar saya isinya Kenshin Himura semua. Sesekali gambar Shishio, Misao dan Sanosuke. Saya sering dikritik ayah karena gambar pake pulpen, bukannya pensil. Saya tak suka pensil. Garisnya tak sejelas dan setegas pulpen. Di sekolah, saya juga menggambar pakai pulpen. Buku tulis saya penuh dengan gambar. Saya pikir cuma anak TK yang masih menggambar menggunakan pensil.

Rumah saya bukan tipikal rumah yang ideal untuk menyimpan bahan bacaan. Buku-buku ada di buffet tua peninggalan nenek. Berdebu dan bukunya juga susah dikeluarkan. Tapi saya tetap nekat mengambil buku-buku sekuat tenaga. Bisa dibilang buku-buku saya pun seadanya. Bukan sih, semua buku di rumah hampir habis saya baca. Buku memasak, majalah-majalah lama, katalog kalender, hingga novel San Pek Eng Tay. Entah kenapa saya harus baca legenda percintaan tiongkok itu saat teman sebaya saya masih nonton serial Digimon.

Sampai sekarang, kebiasaan saya membaca buku apa adanya itu sudah menjadi kebiasaan jika di rumah. Tapi setelah tahu banyak buku, saya jadi kepikiran buat membelikan buku bagus untuk lemari buku ayah. Ah, lemari ayah isinya nota semua sih. Mana bisa dibaca.

Sepertinya saya memang harus menerapkan bahwa mempunyai buku bagus itu harus. Dan mungkin hal itu akan jadi turun temurun, ke anak saya kelak. Hal-hal menyenangkan seperti itu lebih asyik jika memang kita riang melakukannya tanpa dipaksa.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Komentar

Postingan Populer