Masa Depan Sepakbola Inggris

Andaikata Liverpool FC tak jadi meneken Brendan Rodgers jadi Manager klub, mungkin cerita segalanya akan jadi lain. Mantan asisten Mourinho di Chelsea ini punya racikan yahud untuk meramu tim menjadi barisan berbahaya nan spartan, selalu haus, lapar dan berbahaya. Rodgers punya skill diatas rata-rata untuk menjadi seorang manajer klub sekaliber Liverpool.


Cerita manis Rodgers bersama klub Merseyside sepertinya tidak akan menemui ending dengan cepat, terutama di beberapa musim yang kn datang. Rodgers sudah membangun sekian persen komposisi skuat untuk satu dekade ke depan. Inilah kelebihan Rodgers, yang juga turut membawa sukses Liverpool memuncaki tabel klasemen hingga saat ini.


Segala puja puji dari fans yang membuncah, bukan hanya untuk Rodgers dan sang skipper legendaris Stevie G yang tampil luar biasa musim ini, namun untuk barisan youngsters yang telah menemukan masa emas mereka di usia yang sangat dini. Berita bagusnya, bukan hanya seorang.


Baiklah, mari mulai menyebut nama di starting line up yang jadi langganan di beberapa matchday terakhir. Ada Jon Flanagan, si kuat di fullback kiri yang disemati julukan The Red Cafu oleh Marcos Cafu, legenda Brasil eks AC Milan. Julukan yang kiranya sesuai jika melihat performa Flano di lini belakang Liverpool. Tekelnya bersih, clearance sempurna, taktis, kuat dan mentalnya terlihat makin matang.

Tak banyak orang menyangka jika Daniel Sturridge masih 23 tahun jika melihat jejaknya dari City-Chelsea hingga ke Melwood. Salah satu bakat di lini depan The Three Lions ini dibawa Roy Hodgson ke Piala Dunia Brasil, bersaing merebut starting line up bersama striker kenamaan lain dari Britania. Dilihat dari perawakan pun tak ada beda dengan Suarez yang sudah memasuki usia matang. Bersama rekan Uruguaynya itu, Stu menjelma menjadi striker yang menegaskan bahwa menceploskan gol bukanlah hal yang sulit.


Piawai mencetak gol, menggocek bola, menusuk pertahanan dan berbagai aksi memukau lain adalah ciri bahwa di tim itu ada seorang pemain keturunan Jamaika-Inggris bernama Raheem Sterling. Usianya baru 19 tahun, tapi jangan samakan kehebatannya di lapangan dengan teman seusianya. Bek kapten Manchester City, Vincent Kompany saja bisa dikelabui sebelum akhirnya Sterling mencetak gol cepat saat kedua klub bentrok di Anfield dua pekan lalu. Pun bukan hanya bek City yang kecele dengannya, tapi hampir semua bek di Premier League musim ini harus menyerah padanya. Meski masih ada Phillipe Coutinho yang sama-sama muda dan mentereng, Sterling lebih spesial karena dia kebangsaan Inggris. Spesial karena di timnas Inggris pun jarang ada yang jago dalam penguasaan bola sepertinya. Meski setipe, kiranya Sterling bukan suksesor Theodore Walcott atau Aaron Lennon. Sterling lebih komplet. Dia bisa jadi apa saja di lini depan, apalagi urusan mencetak gol. Inggris harus berterima kasih pada Rodgers atas munculnya talenta 19 tahun ini.

Sterling setidaknya akan menjadi pembeda jika jadi dibawa ke Brasil. Tergabung bersama Uruguay, Italia dan Kosta Rika, Roy Hodgson harus pandai meracik berbagai strategi dengan komposisi pemain yang berbeda-beda tipenya. Dan Sterling adalah jawaban pamungkas di lini depan Inggris bersama Daniel Sturridge dan Wayne Rooney.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Komentar

Postingan Populer