Sebelum Berakhir

Kusatukan lembaran data laporan yang kudapatkan tadi pagi di atas meja. Masih rapi.

Beberapa tumpuk laporan memang sama sekali belum kukerjakan. Tak ada aroma ancaman (meskipun senyatanya ada) yang kutakutkan. Entah kenapa semuanya benar-benar terasa hambar. Ratusan angka dalam tabel, garis-garis yang menyekat mereka, serta bercak-bercak fotokopian ini tengah berbicara dengan nada ketus padaku. Mukanya ditekuk samar. Racaunya tak jelas.

'Mau sampai kapan kau melihatku seperti itu? lekas pindahkan aku ke dalam modulmu dan carilah beberapa literatur di internet. Buatlah pembahasan dan kopilah beberapa dapus temanmu. Itu mudah bukan? kau tidak sadar jika masih ada dua-tiga bendel laporan yang mendorongku dan mengantri di belakangku?! ini sungguh tidak adil! kenapa kau tak lekas maju? ada apa?'

'Mana nyalimu hah? hanya ini yang sanggup kau lakukan? sejujurnya aku sudah lelah dengan tingkahmu. Jari-jarimu lebih menyukai tombol-tombol keyboard berdebu lengket itu daripada aku. Kau ingat betapa susahnya aku datang padamu? Kau pikir siapa aku, hah!? aku lebih banyak bermanfaat untukmu, aku bisa memberimu nilai sempurna pada mata kuliahmu, akulah hasil kerjamu dan kelompokmu. Kau merepotkan orang lain untuk mendapatkan aku, dan sekarang kau diam saja. Dimana kewarasanmu hei anak muda! Kau mahasiswa bukan? jawab aku hei!'

Tombol keyboard masih kuketuk-ketuk. Tak juga ku berpindah dari satu halaman di layar ini.

Kertas-kertas putih yang sedari tadi mendengarkan di bawah kertas laporan yang sedang marah itu, terdiam  dan tak berani berkata apapun. Mereka mencemaskan nasibnya masing-masing.

'Tak habis pikir aku denganmu ini. Besok, data dari semua kertas dibawahku ini harus sudah kau pindahkan ke dalam modul praktikummu. Tak usah kusebutkan berapa jumlah data yang kami bawa untuk membuatmu ketakutan. Kau sudah tau pasti berapa jumlahnya dan sampai jam berapa kau mampu menyelesaikannya malam ini. Jika kau berlagak seperti jagoan, akan kulihat sampai mana kemampuanmu.'

Nadanya sudah pelan dan tak tinggi seperti tadi.

Kulihat dirinya, dari atas hingga bawah. Memang banyak data yang harus kuinput. Belum lagi kertas-kertas yang ada di bawahnya.

Dering SMS berbunyi. Kuangkat handphone dan kubuka SMS itu. Jariku berjinjit cepat diatas keypad.

Laporan itu semakin frustasi. Dia kehabisan akal untuk berkata-kata lagi.

'Baiklah, jika ini maumu. Jangan salahkan kami jika besok kau kena batunya. Bukan salah kami jika akhirnya  tanda strip didepan nilai laporanmu nanti bertambah banyak. Kami sudah lelah denganmu. Buang saja kami jika kau tetap begini. Dasar anak ... "

Kuambil dia. Kuperhatikan dirinya lekat-lekat. Kubaca.



Dia tersenyum. 'Nah, seperti ini kan lebih baik.'







Kuremas dia, dan kubuang ke tempat sampah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer