Romantisme Semu

"Karena kita ini adalah keluarga", "makanya aku kangen".

Tidak ada hal yang sama sekali gue tanamkan dalam-dalam dari ucapan macam begitu. Gue sangat sadar, dan selalu berusaha untuk tidak terlarut dalam euforia romantisme kedekatan yang hanya tergantung pada momentum. Kata-kata manis dan super-intens (baca: lebay) adalah salah pertanda bahwa kedekatan yang akan timbul adalah semu. Tak ada purpose yang benar-benar menyentuh satu kata sakral : keakraban sejati.

Kedekatan yang didasarkan kepentingan tak akan pernah berumur panjang. Bukan hanya untuk kepentingan yang bersifat sangat simbolis, tapi hal-hal kepentingan yang mungkin bisa disebut juga sebagai kebutuhan. Butuh teman, butuh pertolongan, butuh bantuan. Tanpa disadari kita justru menjadi benalu untuk hal-hal yang sangat kita sukai.

Pertemanan atau disebut dengan lebih dramatis sebagai Persahabatan, bukan lahir dan ada karena seringnya SMS, indahnya tulisan yang memuatnya dalam blog, atau seringnya upload foto bersama di instagram. Sahabat itu terhubung lewat persamaan rasa. Bisa merasakan rasa yang sama dalam waktu yang persis.

Saat terluka, saat senang gembira, saat gundah gulana.

Sahabat sejati tak pernah banyak bicara. tak pernah banyak-banyak menuangkannya dalam media. Mereka tak terjebak romantisme, euforia dan momentum yang semu.

Mereka bicara menurut 'bahasa' mereka. Bahasa rasa yang menautkan tiap sel-sel dalam tubuhnya.

Komentar

Postingan Populer