Terburuk Selama 101 Tahun

Satu-persatu Liverpudlians yang memadati tribun kanan Stadium of Lights, markas Sunderland, keluar meninggalkan stadion ketika papan skor digital menunjukkan masa injury time. Skor imbang adalah hasil yang cukup jelas untuk mengakhiri pertandingan keempat The Reds di Liga Primer musim ini. Bentrok dengan The Black Cats -julukan Sunderland- di akhir pekan (15/9), The Anfield Gang tak kunjung menuai hasil positif. Tak pernah menang di empat laga pembuka merupakan 'sejarah' tersendiri bagi Liverpool selama kurun 101 tahun terakhir. Catatan yang cukup buruk untuk klub sekelas Liverpool.

Reina kebobolan di menit awal pertandingan.
Hasil buruk ini semakin memojokkan posisi Liverpool di zona dasar klasemen EPL musim 2012/2013. Hanya terpaut tiga strip dari penghuni terbawah Zona Degradasi, Liverpool harus segera berbenah jika tak ingin jadi bulan-bulanan klub kompetitor. Terseok-seok di awal musim pertanda buruk untuk perjalanan semusim ke depan. Meski akhirnya bisa bangkit dan onfire di akhir musim, hasil buruk yang didapat di awal musim menjadi 'celah' untuk kembali gagal meraih titel liga yang telah menghilang 20 tahun lamanya.

Titel Premier League yang telah lama didambakan
Meskipun titel kampiun liga Champions yang kelima berhasil direngkuh, titel yang telah lama didambakan tak kunjung mampir di Melwood : juara Premier League.

Pelatih anyar Liverpool, Brendan Rodgers, meminta kepada seluruh fans untuk lebih bersabar musim ini. Dia telah mengajukan 'blueprint' kepada sang pemilik Klub tentang segala langkah yang harus ditempuh Liverpool jika ingin kembali ke trek juara. Yang paling mengundang perhatian khalayak tentu saja gaya permainan tiki-taka ala Barcelona yang ia terapkan di Anfield. Menyisihkan pemain yang dirasa tak cocok dengan gaya mainnya seperti Charlie Adam dan Andy Carroll, serta mengandalkan pemain dengan skill passing dan kontrol bola yang mumpuni seperti Joe Allen dan Nuri Sahin. Meskipun sempat memuncul kan ekspektasi yang mencerahkan harapan publik The Kop, namun hasil negatif di beberapa pertandingan terakhir bisa jadi batu sandungan tersendiri dalam menerapkan strategi dan rencana yang diinginkan Rodgers di Anfield.

Publik Anfield berharap banyak kepada Pelatih Brendan Rodgers.
Tak ada jaminan pasti bagi Rodgers untuk bisa menjalankan misinya dengan mulus. Rekam jejak pelatih terdahulu bisa jadi bukti bahwa publik The Kop tak lagi toleran jika hasil yang diraih tak sesuai harapan. Nama besar seperti Roy Hodgson dan tangan dingin sang legenda Kenny Dalglish tak cukup untuk membuat mereka bertahan lama di kursi manajer. Rafael Benitez, pelatih yang sempat membawa kembali trofi Liga Champions ke Anfield, bercerai dengan Liverpool akibat tak diberi dana yang cukup untuk membangun tim oleh Tom Hicks dan George Gillet, pemilik Liverpool saat itu. Berbanding terbalik dengan pemilik saat ini, John Henry, yang cukup royal dalam menyokong fulus demi memuluskan keinginan sang Manajer.

Membangun tim dengan skema dan gaya yang baru memang membutuhkan waktu untuk beradaptasi yang cukup lama. Rodgers ingin semuanya berjalan seperti apa yang telah  ia rencanakan. Menerapkan gaya dengan passing dan teknik tingkat tinggi seperti tiki-taka, yang sama sekali berbeda dengan gaya ortodoks klub inggris -memainkan bola direct langsung ke depan gawang lawan- adalah sebuah tantangan tersendiri. Banyak hal yang  masih perlu dibenahi. Para pemain dan jajaran direksi pun mafhum dengan keinginan sang pelatih anyar ini. 

Namun, jika tak kunjung berbenah dan tetap menuai hasil yang tidak memuaskan seperti yang terjadi selama beberapa pekan terakhir ini, Brendan Rodgers patut waspada. Hasil memalukan musim lalu dengan finis di posisi ke-8 dan berada di bawah rival sekota, Everton, cukup menjadi sebuah tanda bahwa tak ada pelatih yang bisa bertahan lama dengan hasil minus di Liverpool. Rodgers harus menemukan sedikit perubahan strategi dan keberuntungan jika tak ingin angkat kaki lebih dini dari Melwood.

Komentar

Postingan Populer