Pindahan

Entah kenapa tiba-tiba saya jadi kepikiran dengan tulisan Raditya Dika di bukunya yang terbaru, Manusia Setengah Salmon.

" Seperti lazimnya orang yang masih terjebak di masa lalu, sesuatu yang lebih baru akan kalah oleh sesuatu yang lama. Ini mungkin alasan mengapa kita susah menemukan hal baru, karena perjuangan untuk pindah adalah perjuangan untuk melupakan."

Buku bajakan yang saya beli di penjual koran ini ternyata ada gunanya juga. Meski banyak misprint dan halaman yang hilang. Toh masih ada yang tersisa untuk dibaca.

Alhamdulillah, sekarang saya sudah menempati hunian yang baru. Kontrakan baru. Meninggalkan kontrakan lama yang sudah habis masanya. Meninggalkan semua hal yang berhubungan dengannya. Ibu kontrakan, lampu kamar mandi yang mati berbulan-bulan, angkot, jalangkote, coto, jambu kristal dan maling laptop. Semua kenangan itu, baik ataupun buruk, pelan-pelan harus bisa ditinggalkan.

Pindahan berarti apa yang telah kita susun dan rencanakan harus ditata ulang. Kita juga harus beradaptasi ulang dan 'mengospek' diri kita sendiri dengan lingkungan yang baru. Semuanya dimulai dari nol lagi. Teman baru, tagihan baru, tetangga baru, ibu kontrakan juga baru.

Pindahan juga perlu persiapan yang matang. Rumah seperti apakah yang akan kita tempati, seberapa jauhkah dari kampus, bagaimana fasilitas dan keamanannya. Perkiraan biaya hidup yang akan dikeluarkan juga jadi pertimbangan yang penting. Semuanya dipertimbangkan demi mendapatkan rumah yang benar-benar cocok dengan kita.
Pindah rumah (re:kontrakan) sama prosesnya seperti pindahan yang lain. Pindah kuliah, pindah jurusan, pindah tempat laundry, pindah tempat kerja, sampai pindah hati. Semuanya membutuhkan waktu dan proses. Seperti juga proses perpindahan musim dingin ke musim panas. Tak ada pepohonan yang dengan tiba-tiba menumbuhkan daun lebat dalam waktu singkat. Everything need process. Cuma, setiap orang memiliki tenggat waktu untuk move on yang berbeda.

Melupakan kebiasaan dan kenangan di tempat lama adalah hal yang sulit. Kebiasaan turun tangga,tempat menyimpan kunci kamar, kebiasaan teman saat mandi, lompat pagar saat kunci ketinggalan, membangunkan teman sekontrakan dan hal-hal yang sebenarnya tidak penting di tempat yang lama masih terekam dengan jelas dalam memori kita. Hal-hal semacam inilah yang kemudian membuat kita menjadi gagal move on dari kehidupan yang lama.

Banyak orang yang masih saja mengeluh saat dia sudah memutuskan untuk pindah. Mengeluh karena air mati, tetangga yang sinis, sampah berserakan dimana-mana, dan berbagai masalah yang lain. Pernyataan yang keluar pun selalu sama, 'Tempat yang dulu jauh lebih baik dari yang sekarang. Tempat yang dulu lebih nyaman dari yang sekarang'.

Setiap keputusan pasti ada resikonya, begitu pula dengan yang namanya pindahan. Saat kita memutuskan untuk pindah, banyak harapan yang muncul agar kehidupan kita lebih baik nantinya di tempat yang baru. Kita sudah membayangkan mau apa saja nanti di tempat yang baru. Setelah menempati tempat yang baru dan ternyata hal-hal tadi tidak terwujud, kita akan kecewa dan menyesali kepindahan ini.
Meski selalu beresiko, tapi itulah kodrat manusia : pindah. Selama manusia masih ada di dunia ini, proses perpindahan akan selalu terjadi. Paling mendasar, pindah dari yang buruk menjadi lebih baik. Dan untuk mencapai target 'lebih baik' inilah setiap orang berlomba-lomba menyempurnakan dirinya. Menjadi manusia super, yang terkadang memaksakan diri untuk melampaui ambang batas kemampuan yang dimilikinya.

Orang-orang menjadi takut menemui satu hal dalam proses perpindahan ini : kegagalan. Hitung-hitungan resiko dengan segala macam kemungkinannya membuat orang urung melakukan pindahan. Urung pindah ini sama halnya dengan orang yang baru putus pacaran dan enggan move on. Alasannya, trauma jika nanti terjadi hal-hal buruk yang sama saat pacaran dulu. Takut sakit hati, dan takut putus lagi.
Sedih memang bumbu dari setiap perpindahan. Kita sedih karena harus merelakan semua yang telah menemani kita dan menjadi bagian dalam hidup kita. Orang-orang menangis saat mengantar keluarganya ke bandara, saling bercucur air mata. Rasa rindu dan cemas terhadap orang yang meninggalkan kita menjadi hal yang menguatkan mengapa perpisahan itu menyakitkan. Padahal, perpisahan itu sendiri sama halnya dengan perpindahan.

Untuk melakukan pencapaian yang lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan yang lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Untuk mewujudkan harapan dan keinginan kita, tentu kita harus berani pindah. Pindah dari hal kecil ke yang besar. Memindahkan diri kita dari nol menjadi 100. Memindahkan diri kita menjadi yang lebih baik.

Komentar

  1. orang Makassar kah? :D

    BalasHapus
  2. bukan. teman2ku di kontrakan orang makassar semua

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer