Aduh, Film Lokalku Diserang (Lagi)

Masyarakat pecinta film Indonesia bersuka cita saat menyaksikan kemunculan dua film keren karya anak negeri yang sudah wara-wiri di kancah perfilman internasional. Dua film hebat garapan sineas Indonesia itu menyabet berbagai pengakuan dan penghargaan dari festival film mancanegara. Ya, mereka adalah The Raid Redemption dan Modus Anomali.


Melanjutkan kesuksesan film 'pendahulunya', Merantau, prestasi yang diraih film besutan Joko Anwar (Modus Anomali) dan Gareth Evans (The Raid) ini setidaknya membuat masyarakat film Indonesia bisa sedikit bernafas lebih lega. Dunia perfilman Indonesia perlahan mulai bangkit dari tidur panjangnya. 




Tapi, nasib malang tak bisa ditolak perfilman negeri kita. Alih-alih kesuksesan yang diraih kedua film ini disusul oleh kemunculan film-film keren lainnya, malah muncul sebuah film 'sampah' yang ikut-ikutan kepengen cepat tenar dan laku tapi lewat jalan pintas yang mahainstan. Caranya? tak jauh beda dengan kebanyakan film murahan lainnya, yang lebih dahulu melacurkan diri. Berpegang pada tiga falsafah pokok para produser film kacangan yang menjadi pedoman dan andalan dalam memproduksi film, supaya filmnya cepat laku dan penonton datang ramai-ramai ke bioskop : 

Hantu, Komedi, dan Seks.

Inilah film nahas yang lahir di tahun 2012 itu. Tepatnya tayang 7 Juni.


Coba anda baca judulnya : 
MR. BEAN KESURUPAN DEPE. 

Apa yang ada dalam pikiran anda tentang film ini?
Rowan Atkinson jadi permen chup-a-chups warna putih dan beradu akting dengan 
Dewi Perssik?

Eh sebentar, Mr. Bean itu Rowan kan? Rowan itu Mr. Bean kan?
Pernah membayangkan Mr. Bean diperankan selain Rowan? Orang inggris juga?

Lalu, Rowan Atkinsonnya mana?

Penilaian bohong atau tidak ada di tangan anda. Foto dok. Kapanlagi.com

Ya, film ini jelas sudah menjual kepercayaan publik dengan jalan membohongi dan membodohi karena membawa-bawa nama Mr. Bean dalam promonya. Masyarakat Indonesia kadung beranggapan bahwa Mr. Bean ya Rowan. Bukan yang lain. Dan memang faktanya ya seperti itu. Mr. Bean itu trademark-nya Rowan Atkinson. Meskipun lagi main di Johnny English, orang kita pasti bilang, "Eh itu Mr. Bean kan yang main?". Kalau memang tak kuat bayar Rowan Atkinson yang asli, mbok ya nggak usah pakai nama Mr. Bean lah. Mr. Black kek, Mr. Tukul kek, Mr. Simple kek. Trus itu ngapain turis inggris dipake buat gantiin Rowan?


"YANG PENTING ORANG INGGRIS."

Sukses sebuah film tak semata diukur dari banyaknya tiket yang terbeli atau penonton yang datang ke bioskop. Film itu sukses jika penggarapannya serius dan memang bagus secara mutunya. Menjual kebohongan, hantu, apalagi seks jelas menggambarkan bahwa jalan pintaslah yang ditempuh untuk meraih ukuran sukses tadi. PRODUSER BALIK MODAL.


Toh, masyarakat perfilman Indonesia juga tidak bodoh. Film bagus itu terkenal karena orang penasaran sama filmnya dan ingin menontonnya berkali-kali. Film sampah itu terkenal karena gosip. Gosip tentang kehidupan artisnya yang mengumbar kesengajaan merekayasa kontroversi dan dari hasil penjualan kemolekan tubuh plus adegan panas kelas teri.


Haaaah, kapan bisa nonton film ke bioskop lagi yah kalau begini terus.....

Komentar

Postingan Populer