Legowo Itu Indah

Selesai kuliah, gue pergi ke perpustakaan LSI mencari bahan laporan. Kebetulan hari ini di perpus lagi ramai, banyak mahasiswa yang membaca dan meminjam buku. Setelah menemukan buku yang gue cari, gue mampir dulu ke shelter buat minjem sepeda, tapi nggak jadi karena sepedanya lagi dipinjam semua. Niatan buat pulang cepet pun diurungkan. Akhirnya, daripada nggak ada hasil sama sekali gue memutuskan untuk menunggu bis kampus.

Setelah beberapa menit menunggu, bis yang ditunggu pun datang juga. Mahasiswa berdesakan masuk. Pengap yang terasa setelah masuk bis, didukung dengan terik matahari di siang bolong membuat panas kian terasa. Untungnya gue dapet duduk, jadi agak mendingan. Gue pasang headset di telinga dan mulai muterin musik biar nggak bosen. Sesekali melihat sekeliling (sok iyee banget) kampusku yang permai. Bis kemudian berhenti di depan kampus FPIK. Beberapa anak keluar lewat pintu belakang, sebagian lagi lewat depan. Oh, sepertinya jalur pintu depan sedikit tersendat.

Ternyata hal itu disebabkan oleh seorang mahasiswa yang tidak bisa membuka pintu bis. Dari kursi belakang, si mahasiswa, yang kita sebut saja Rian (bukan nama sebenarnya), terlihat kesusahan membuka gagang pintu bis. Beberapa orang mahasiswi yang ngantri di belakangnya mulai gusar dan terlihat mulai kesal. Si Rian pun terlihat panik. Tapi, si sopir bis tiba-tiba menunjuk-nunjuk gagang pintu dan mengatakan sesuatu. Dia terlihat memarahi Rian dan memberi tahu cara membuka pintu bis yang benar. Kata-katanya tidak begitu jelas karena suara musik di headset gue. Anehnya, seorang mahasiswi malah cekikikan di tengah keadaan yang cukup menegangkan itu. Gue jadi terheran-heran, ada apa sebenarnya. Setelah si bapak berhasil membukakan pintu, para mahasiswa berhamburan keluar bis. Hanya, Si Rian terlihat agak masam dan cemberut mukanya pas turun dari bis. Mungkin gara-gara kejadian yang tadi kali ya. Bis pun berjalan kembali.

Sesampainya di kosan, gue ambil handuk dan pergi mandi untuk menyegarkan badan. Setelah membersihkan diri dan shalat ‘Ashar, iseng-iseng gue buka FB. Ngecekin notif terbaru dari beberapa grup. Lagi asyik-asyiknya baca status orang, tiba-tiba ada statusnya si Rian yang ketemu di bis tadi siang, lewat di News Feed. Karena penasaran, gue pun membacanya. Setelah selesai membaca, jidat gue jadi naik 30 cm saking kagetnya. Jadi bingung antara mau sedih atau ngakak tingkat internasional gara-gara baca status dia. Sepertinya curhatan tentang kejadian tadi siang. Begini kira-kira bunyi statusnya :

“ Kampus sekaliber IPB ternyata bisa kecolongan juga dalam pemilihan sopir bus kampus IPB. Salah seorang oknum sopirnya telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dengan menghina salah satu mahasiswanya dengan sebutan 'banci' ... “

Oalaaah, ternyata itu toh yang sebenarnya terjadi tadi siang. Pantesan aja si Rian mukanya langsung berubah jadi kayak kaleng sarden kesiram air raksa begitu keluar dari bis. Jadi, si bapak sopirnya marah-marah sama dia gara-gara nggak bisa bukain pintu, dan dengan indahnya beliau meluncurkan sebuah kata ‘banci’ kepadanya, yang sebenarnya agak saru untuk dikatakan, apalagi jika sasaran ucapannya adalah cowok yang memang agak-agak. Tapi sepertinya jika melihat bagaimana aslinya si Rian sih, yaa si bapaknya tidak salah juga. Hahaha.

Seakan kurang puas dengan status yang tadi, muncul pula status berikutnya :

“ Sumpah, seorang oknum sopir bus IPB menghina mahasiswa dengan sebutan banci hanya karena pintu bus yang memang sudah SGT susah dibuka. Hendaknya sopir2 bus kampus IPB adalah orang2 yang terpilih dan ber... “

Dilihat dari deretan statusnya, gue bisa ngerti bagaimana perasaan Rian. Siapa juga yang mau dibilang banci, apalagi itu diucapkan di depan mahasiswi. Oleh seorang sopir bis kampus lagi. Wajar kalau dia kesal dan merasa terinjak-injak harga dirinya. Karena ngerasa tergugah, gue ikutan komen juga di statusnya. Gue bilang mungkin si bapaknya lagi kecapekan aja karena kerja seharian, atau lagi bad mood aja. Namanya juga manusia, wajarlah jika ada kejadian seperti itu dan si bapaknya keceplosan –mungkin dengan sedikit emosi juga- sampai ngomong seperti itu. Kalau hanya kata ‘banci’, meskipun itu sulit untuk diterima, setidaknya mungkin masih wajar jika si sopir bis kampus itu sampai ‘terlanjur’ mengatakannya, apalagi dalam keadaan emosi. Merasa sakit hati itu wajar, namun bersikap legowo tentu lebih baik.

Kita tentu protes jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar, apalagi yang mengandung pelecehan seperti kata ‘banci’ tadi. Tapi, apakah kita tidak juga membandingkan dengan oknum mahasiswa yang terkadang tidak dijaga ucapannya? Malah terkadang sering mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas dikatakan untuk ukuran seorang pelajar berembel-embel ‘Maha’. Apakah pernah kita protes? Atau bahkan diri kita sendiri yang melakukannya? Pernahkah kita protes?

Tidak serta merta membiasakan diri untuk senantiasa legowo jika ditimpa kesusahan adalah salah satu karakter kebanyakan mahasiswa saat ini. Karena terbiasa selalu dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang serba ada sehingga terkadang lupa diri. Selalu protes jika ada yang salah dengan yang lain. Selalu merasa kurang dan tak pernah terpuaskan. Hanya karena beberapa kesalahan, kita langsung menghakimi mereka dengan berbagai tuduhan miring. Mereka juga kan manusia, sama seperti kita, pasti ada celahnya. Jika mereka ada salah, ingatkanlah. Manusiakanlah mereka sebagaimana kita memanusiakan diri kita.

Apa jadinya kampus kita tanpa jasa orang-orang seperti sopir bis kampus ini yang setiap hari setia melayani antar jemput mahasiswa, mengantar kesana-kemari, harus berurusan dengan tukang ojek yang biasa mangkal di wilayah kampus, harus mendengarkan celetukan mahasiswa jika sampai telat datang. Bagaimana nasib kita jika para sopir itu sakit, dan bis kampus tidak beroperasi? Siapa yang bakal repot? Tentu kita juga kan.

Setidaknya, bersikap legowo dengan apa yang ada di depan kita, baik ataupun buruk, seharusnya bisa diwujudkan dengan hati dan pikiran yang lapang, tanpa mendahulukan keegoan masing-masing. Dan sepertinya, Rian pun mulai memahami itu.

“ Seorang Sopir Bus IPB cukup membuat saya kaget, saya tersadar betapa akan kerasnya dunia pasca kampus nanti. Sedangkan di dunia kampus aja udah kayak gitu kejamnya. Dasar sopir yang ‘ramah??’ “

Nikmat atau kejamnya hidup sangat terbatas sekali pada apa yang ada dalam alam pikiran kita. Sudah sejauh mana kita mengasah indera kepekaan kita terhadap sesama, terhadap apa yang ada di sekeliling kita, bagaimana memahami mereka, dan apa yang mereka butuhkan dari kita, itulah yang seharusnya kita miliki dan terapkan dalam kehidupan yang serba beragam ini. Tidak melulu ingin selalu didahulukan dan dipuaskan keinginannya.

Oh iya, Rian sepertinya ingin mengklarifikasi statusnya yang lalu…

“ Sopir bis kampus IPB itu baik2 ya. Bisnya g macet pintunya. Kita disambut hangat. Aku suka naik bus IPB. Makasi pak supir bus IPB yang ‘RAMAH??????’ “



Yah, belajar untuk legowo itu memang sulit.



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer