Bersama Bapak dan Ibu di Pagi Hari

Rumah selalu punya arti dalam hidup gue. Semua yang ada di rumah adalah guru, tempat gue belajar, tempat belajar caranya hidup di dunia. Seperti pagi ini, ditemani kue serabi hangat dan segelas teh manis menemani percakapan antara gue dan bapak. Ibu yang biasanya sibuk mondar-mandir di dapur setiap pagi pun sekarang duduk di samping gue sambil sesekali menuangkan teh dari teko. Seperti biasa, seorang anak yang baru pulang dari rantau akan selalu banyak bertanya, dan begitu juga Bapak yang selalu ingin banyak berbincang dengan putranya. Tidak seperti Ibu yang selalu terus terang jika sedang kangen, bapak hanya diam dan bicara seperlunya. Sebagaimana sikap laki-laki pada umumnya. Topik yang dibahas pun seputar dunia kampus, aktivitas kuliah, agama, kondisi keuangan, organisasi, kontrakan hingga makanan. Topik favoritnya tentu saja politik, khususnya tentang kondisi Indramayu. Bapak yang selalu bersemangat jika mendengarkan cerita gue, seperti saat ini. Kaos singlet putih yang melekat ditambah kain sarungnya yang dibetulkan sesekali, sangat khas bapak. Tidak lupa secangkir teh manis favoritnya yang selalu setia menemani. Tatapan matanya yang antusias, seakan ikut mendengarkan cerita gue juga. 

Jauh-jauh gue pulang dari Bogor ke Indramayu, bukan cuma karena duit gue yang mulai abis. Lebih dari itu, gue kangen ketemu Bapak dan Ibu. Kangen sambel terasi dan sayur asem bikinan ibu, kangen banyolan segar khas bapak. Seperti saat ini. Kami duduk bersama dan bercengkerama. Diselingi gelak tawa renyah memenuhi seisi ruang tamu.

Tidak ada yang bisa menggantikan kalian, pak, bu.
Untuk pagi ini, hari ini, dan sampai nanti.

Komentar

Postingan Populer